Friday, May 17, 2019

pancasila tentang nilai persatuan Indonesia


Sila   ketiga   dari   Pancasila   berbunyi   Persatuan   Indonesia,   negara Indonesia dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai nasionalisme. Kekuatan nilai persatuan dan kesatuan dapat menjaga keutuhan bangsa dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama bagi kelompok manusia. Bangsa yang benar-benar independen lahir dari kesadaran masyarakatnya akan pentingnya persatuan.
Representasi  nilai-nilai  persatuan  pada  masyarakat  Indonesia  adalah budaya gotong royong. Dahulu nilai gotong royong sebagai sangat terasa sekali, jika ada tetangga yang melaksanakan hajatan. Ketika petani mau menanam padi atau kedelai di ladang atau memanen pasti tidak bayar, upahnya hanya makan pagi dan siang atau makan kecil. Jadi, kalau ada diantara mereka menanam atau memanen, maka warga yang lainnya ikut gotong royong dan begitu sebaliknya, terjadi semacam barter tenaga. Sekarang keadaanya telah bergeser, kalau mau bercocok tanam atau panenan sudah harus memperhitungkan upah. Bahkan sekarang jika ada kentongan dipukul untuk gotong royong, banyak orang yang berfikir praktis, cukup memberi uang dan tidak udah ikut gotong royong. Persoalanya mengapa hal ini terjadi?
Adanya desakan ekonomi pasar yang kuat, memang terlalu sulit dan berat untuk mempertahankan model gotong royong seperti di atas, dan memang tidak harus dipertahankan benar-asal proporsional. Pola pikir praktis dengan hanya memberi uang tanpa mau terlibat gotong royong jelas merupakan pertanda erosi nilai dan munculnya nilai baru yakni indivualisme pada masyarakat perdesaan, Munculnya   nilai   individualisme   ini   terjadi   karena   semakin   terbatasnya kepemilikan tanah yang banyak dikuasai oleh tuan tanah lokal atau masuknya
petani berdasi dari kota.
Kenyataan menunjukkan bahwa nilai persatuan dan tanggung jawab yang terlihat pada kehidupan buruh penggilingan padi telah menjadi realitas sosial yang ada sebagai wujud rasa cinta pada bangsa dan negara. Nilai persatuan yang dapat dicontohkan dengan adanya budaya gotong royong, ringan sama dijinjing berat sama dipikul serta saling menghormati terhadap bentuk-bentuk perbedaan pada kehidupan para butuh penggilingan padi. Meskipun para buruh penggilingan padi tersebut sebenarnya tidak ingin memamerkan bahwa dirinya baik atau berusaha kelihatan baik. Mereka memang secara alamiah (natural) telah mengkonstruk, memandang, beranggapan, berfikiran mengenai pentingnya nilai persatuan dan tanggung jawab di antara para pekerja sehingga membawa manfaat yang baik dan positif bagi kehidupan kerja di penggilingan padi pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tanggung jawab pada organisasi merupakan kunci keberhasilan dalam menjaga hubungan dalam bekerja (Yim dan Fock, 2013: 665).
Keberadaan tradisi gotong royong dalam kehidupan bangsa Indonesia merupakan sebuah kearifan lokal yang perlu dikembangkan dalam kehidupan generasi masa kini. Nilai gotong royong dapat dimanfaatkan secara positif dalam kehidupan untuk menggerakkan persatuan dan kesatuan bangsa agar mampu menghadapi tantangan perubahan jaman, globalisasi, maupun berbagai hal yang mengancam kehidupan masyarakat seperti bencana alam, konflik sosial maupun politik. Gotong royong menjadi pranata untuk menggerakkan solidaritas masyarakat dan menciptakan kohesi sosial dalam kehidupan bangsa Indonesia. Konservasi nilai budaya gotong royong dalam kehidupan masa kini akan tetap






relevan, karena dengan semangat gotong royong, solidaritas masyarakat serta persatuan dan  kesatuan  bangsa akan  terpelihara.  Kewajiban  moral  merupakan persepsi individu atas tanggung jawab untuk melakukan atau menolak untuk melakukan perilaku tertentu, hal ini memiliki hubungan dengan pengambilan keputusan etis manusia (Strader, et.al. 2009: 467).
Nilai, norma, dan pesan moral dari budaya gotong royong memiliki hubungan erat dengan wacana pendidikan moral, pembentukan sikap-sikap, pembangunan watak bangsa (the character building). Dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia mata pelajaran yang sesuai adalah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Nilai, norma, dan pesan moral dari budaya gotong royong pada pekerja penggilingan padi menjadi contoh bagi masyarakat dalam menjabarkan karakter dirinya ke dalam tingkah laku yang kongkrit. Nilai, norma dan pesan moral dapat dijadikan standar/ukuran bagi kualitas suatu tingkah laku.